Ganja Memiliki Dampak Positif



Ganja Memiliki Dampak Positif ?Benarkah ?

Ganja identik dengan teler. Itulah yang ada di benak orang kita. Padahal setelah dikais-kais, ganja punya banyak manfaat. Mulai jadi penyedap rasa, penahan longsor, hingga jadi bahan bakar.



Kita melihat bahwa kualitas ganja Indonesia terbaik di dunia. Karena itu kita ingin membuktikan, kalau di luar negeri ganja itu bisa dimanfaatkan secara positif, bagaimana dengan di Indonesia sendiri.

Kita kaji dari semua disiplin. Kita akan melihat dari negara-negara lain yang telah memanfaatkan ganja dalam bentuk positif. Kita cocokkan dengan negara kita.

Beberapa negara yang telah memanfaatkan ganja secara positif bisa meningkatkan devisa negara. Ganja bisa dimanfaatkan untuk industri baik untuk bumbu masak bahkan untuk bahan bakar. Mulai dari daun ganja, ranting ganja, akar ganja semua bisa dimanfaatkan secara positif.

Akarnya tembus sangat dalam. Sehingga bisa menahan longsor. Bukit yang miring bisa tertahan dengan akarnya.

Ganja memiliki dampak positif bagi kesehatan. Itu sebabnya ganja masih bisa digunakan untuk kepentingan medis di sejumlah negara atau negara bagian yang belum lakukan legalisasi ganja.

Lebih dari 200 penyakit bisa diatasi dengan terapi ganja. Di antaranya dalah insomnia, gagap, dan premenstrual syndrome (PMS).

Tumbuhan ganja sangat mudah untuk ditanam. Ganja juga dapat menyuburkan tanaman. Ganja tidak memerlukan pestisida karena telah mempunyai kemampuan untuk menolak hama.

Lembaga National Cancer Institute mengatakan ganja bisa digunakan untuk mengatasi efek samping dari kemoterapi, mencegah nausea (mual) dan muntah, meningkatkan nafsu makan, mengurangi rasa sakit, dan meningkatkan kualitas tidur.

Bussiness Insider pun menyebut manfaat lain ganja bagi kesehatan. Di antaranya adalah mencegah kebutaan akibat glukoma, mengendalikan penyakit epilepsi, dan mengurangi rasa cemas berlebihan. Adapun zat kimia cannabidiol di ganja dianggap bisa mencegah penyebaran kanker, dan zat aktif THC bisa mengurangi dampak penyakit Alzheimer.

Efek yang dihasilkan pada kesehatan masyarakat tergantung seberapa sering menggunakan ganja. Faktor lain yang patut dipertimbangkan untuk jadi variabel penelitian adalah penggunaan yang dilakukan secara bersamaan dengan alkohol (yang berpotensi meningkatkan kerusakan), potensi obat-obatan terlarang lain, dan jumlah remaja yang menggunakan.

Jadi sebenarnya kegunaannya positifnya sangat banyak, yang penting jangan sampe menyalahin aturan untuk pemakaiannya.

Tapi tetap, Pemerintah harus membuat undang-undangnya untuk melegalisirkan ganja secara teliti biar tetep ada batasan maksimal penggunaannya, dan dengan umur diatas 21 tahun.




Ilmuwan dari Amerika Serikan menemukan, ganja mampu mengatur rasa cemas dan respons yang ada di dalam tubuh.
Liputan6.com, London Sebuah penelitian membuktikan bahwa ganja dapat mengurangi rasa cemas. Ilmuwan dari Amerika Serikan menemukan, ganja mampu mengatur rasa cemas dan respons tegang dalam tubuh hingga menenangkannya.

Para peneliti di Vanderbilt University, Tennessee, seperti dikutip dari Dailymail, Selasa (11/3/2014) menemukan reseptor di mana ganja dapat memberikan efek hubungan emosional dalam otak. Adalah Amigdala, bagian otak yang terlibat untuk mengatur kecemasan dan respons tegang ini.

Sebuah penelitian yang dipimpin langsung oleh Dr. Sachin Patel dan telah diterbitkan dalam Jurnal Neuron menunjukkan bahwa untuk pertama kalinya diketahui bagaimana sel-sel saraf di bagian otak merilis secara alami endocannabinoids, hormon yang mampu mengatur kecemasan dan respons terhadap stres dengan peredam sinyal di otak.

Ini diketahui ketika seseorang mengalami stres kronis atau trauma emosional yang berat. Saat itulah terjadi pengurangan produksi endocannabinoids alami. Ketika ini terjadi, tingkat kecemasan cenderung meningkat.

Menurut para peneliti, ganja dapat mengurangi kecemasan karena efek dari cannabinoids yang dikeluarkannya sehingga mampu mengisi kekurangan produksi endocannabinoids alami pada tubuh.

Sumber : 

No comments:

Post a Comment

POSTED RECENTLY